MEREKA MEMBAWA ANAK-ANAK KAMI


Artikel ini merupakan artikel yang saya terjemahkan dari artikel di The Sydney Morning Herald, May 4, 2013 (http://www.smh.com.au/lifestyle/theyre-taking-our-kids-20130429-2inhf.html#ixzz2SMJbWkfv) yang ditulis oleh Michael Bachelard.

============================================================

Johanes Lokobal duduk di rumput yang menjadi bantal di lantai kayu di rumah satu-kamarnya yang kecil. Dia menghangatkan tangannya di api yang berada di tengah rumahnya. Sementara, dari waktu ke waktu seekor babi, terlihat menjerit dan membanting dirinya sendiri dengan keras ke dinding sebelah luar rumah.

Kampung Megapura terletak di pegunungan tengah, provinsi paling timur Indonesia, Papua Barat yang begitu jauh hingga suply apapun hanya bisa dilakukan melalui udara atau berjalan kaki. Johanes Lokobal telah tinggal di situ sepanjang hidupnya. Dia tidak tahu persis usianya : “Tua saja,” katanya. Hidupnya juga jauh dari cukup. “Saya membantu di kebun. Saya dapat sekitar 20.000 rupiah [$ 2] per hari. Saya membersihkan taman sekolah.”

Tapi dalam kehidupannya yang keras, salah satu kesulitan yang menimpanya telah membuat dia terluka. Pada tahun 2005, putra satu-satunya, Yope, dibawa ke Jakarta. Lokobal tidak ingin Yope pergi. Anak itu mungkin berusia 14 tahun, tapi besar dan kuat, seorang pekerja yang baik. Namun orang-orang itu tetap membawa Yope pergi.. Beberapa tahun kemudian, Yope meninggal. Tidak ada yang bisa mengatakan pada Lokobal, bagaimana atau kapan tepatnya, dan dia tidak tahu di mana anaknya dimakamkan. Yang dia tahu, adalah bahwa ini tidak seharusnya terjadi.

“Jika dia masih hidup, dia akan menjadi orang yang merawat keluarga,” kata Lokobal. “Dia akan pergi ke hutan mengumpulkan kayu bakar buat keluarga. Jadi saya sedih.”

Orang-orang yang mengambil Yope adalah bagian dari perdagangan terorganisir anak-anak Papua. Sebuah investigasi Good Weekend selama enam bulan telah mengkonfirmasi bahwa anak-anak, mungkin berjumlah ribuan, telah dibawa pergi selama sepuluh tahun terakhir atau lebih dengan janji pendidikan gratis. Di provinsi di mana sekolah-sekolah sangat minim dan banyak keluarga tak mampu, sekolah gratis bisa menjadi tawaran menarik.

Tapi untuk beberapa anak-anak, yang mungkin berumur lima tahun, saat mereka tiba mereka hanya tahu  mereka telah direkrut oleh “pesantren”, di mana waktu untuk mempelajari matematika, ilmu pengetahuan atau bahasa dikurangi oleh jam yang dihabiskan di masjid. Dalam kata-kata seorang pemimpin pesantren, “Mereka belajar untuk menghormati Allah, itu merupakan hal utama.” Sekolah-sekolah ini memiliki satu tujuan: untuk mengirim lulusan mereka kembali ke penduduk Papua yang mayoritas Kristen untuk menyebarkan pengetahuan mereka tentang Islam.

Tanyakan kepada 100 anak laki-laki Papua dan perempuan di sekolah Daarur Rasul di pinggiran Jakarta apa cita-cita mereka  saat dewasa dan mereka akan berteriak, “Ustad! Ustad! [Guru agama] ”

Di Papua, khususnya di pegunungan, masalah identitas agama dan budaya memang “panas”. Data sensus selama empat dekade terakhir menunjukkan bahwa penduduk asli kini sama jumlahnya dengan pendatang, sebagian besar Muslim, dari bagian lain Indonesia. Pendatang yang mendominasi ‘ekonomi, khususnya di bagian barat provinsi, efektif meminggirkan penduduk asli. Imigrasi Ini berarti bahwa masyarakat asli Papua memiliki rasa takut yang nyata dan realistis jika suatu saat mereka akan menjadi etnis dan agama minoritas di tanah mereka sendiri. Kisah-kisah orang merampas anak-anak mereka menambahkan perasaan emosional dan memiliki potensi untuk mengobarkan ketegangan di wilayah yang sudah rentan.

Selama sekitar 50 tahun, pemberontakan separatis telah aktif di Papua dan ratusan ribu orang meninggal dalam upaya mereka untuk mendapatkan kemerdekaan Papua. Kristen, yang dibawa oleh para misionaris Belanda dan Jerman, adalah kepercyaan dari sebagian besar penduduk asli, dan bagian penting dari identitas mereka. Islam sebenarnya memiliki sejarah yang lebih lama di Papua daripada Kristen, namun khotbah-kotbah yang lebih santun  daripada apa yang dikhotbahkan di masjid-masjid di Jawa, setidaknya untuk saat ini menyebabkan, Islam masih agama minoritas di Papua. Tapi ketika anak-anak pesantren kembali dari Jawa, iman mereka telah berubah. “Mereka menjadi orang yang berbeda,” kata pemimpin Kristen Papua, Benny Giay, kepada saya. “Mereka telah dicuci otak”.

Sekolah-sekolah ini bersikeras mereka hanya merekrut siswa yang sudah menjadi muslim, tapi jelas mereka tidak terlalu ngotot. Di Daarur Rasul, saya dengan cepat menemukan dua anak kecil, Filipus dan Aldi, yang mualaf – pindah dari agama Kristen ke Islam. Salah satu organisasi Islam radikal, Al Fatih Kafah Nusantara (AFKN), mengatakan AFKN telah membawa 2200 anak dari Papua sebagai bagian dari program nasionalistik “Islamisasi”nya. “Ketika [orang Papua] menjadi Islam, keinginan mereka untuk merdeka berkurang!” kata Fadzlan pada halaman internet AFKN itu.

Dalam pergolakan yang terjadi di Papua, “gerakan dan konversi” anak-anak adalah ledakan politik. Kami diperingatkan beberapa kali agar tidak mengejar kisah ini. Ini tidak pernah dilaporkan dalam pers Indonesia. Kepala Unit  Percepatan Pembangunan di Papua dan Papua Barat, Bambang Darmono, hanya berkata bahwa ini sebagai salah satu dari “banyak masalah di Papua”, dan direktur Pesantren di Kementerian Agama, Saefudin, mengaku belum pernah mendengar tentang hal itu. Namun upaya saya untuk menelusuri kehidupan dan kematian salah satu anak Papua telah mengungkapkan bahwa perdagangan itu berlangsung. Dan, dalam pelayanan tujuan agama dan politik yang besar, kehidupan anak-anak dan pemuda terkadang dirusak.

Elias Lokobal tersenyum sendiri ketika ia berbicara tentang kehilangan saudara tiri kecilnya yang penuh semangat, tapi ketika berbicara tentang Amir Lani, eskpresinya berubah menjadi kelam. Lani adalah seorang ulama lokal di Megapura dan desa-desa lain di sekitar ibukota Jayawijaya, Wamena. Saat itu di sekitar tahun 2005 ketika ia dan Aloysius Kowenip, kepala polisi dari kota terdekat Yahukimo, mulai mendekati beberapa keluarga untuk merekrut anak-anak mereka. Dua orang ini bekerja untuk mengambil lima anak laki-laki dari keluarga yang rentan di masing-masing lima desa dan mengirimkan mereka ke Jawa untuk pendidikan. Kowenip, seorang Kristen, mengatakan itu adalah idenya untuk “membantu” anak-anak, dan dana untuk itu berasal dari “pemerintah daerah dan organisasi Islam” yang namanya ia lupa. Dia bilang dia mencari anak-anak yang hanya memiliki satu orangtua karena “tidak ada yang membimbing mereka”.

Yope muda adalah salah satu anak laki-laki tersebut. Meskipun ia memiliki ibu tiri, ibu kandungnya telah meninggal. Baik Lani maupun Kowenip pernah mengunjungi ayah Yope, Johanes Lokobal, untuk menjelaskan rencana mereka. Ini sangat melukai. “Orang-orang harus meminta izin dari orang tua,” kata Lokobal. Tapi sebaliknya, mereka hanya menanyakan pada Yope saja, yang antusias terhadap petualangan ini. Beberapa temannya sudah pergi ditahun sebelumnya dan ia tertarik untuk bergabung dengan mereka.

Ketika tiba saatnya Yope untuk berangkat, itu terjadi dalam sekejap, ingat saudara tiri Yope, Elias. “Aku pergi ke sekolah, dan ketika saya pulang tidak ada orang di rumah.”

Andreas Asso adalah bagian dari kelompok yang sama. Sekarang pemuda pemalu ini bekerja di Jayapura,  ibukota Provinsi Papua, ia mungkin berusia 15 tahun pada saat itu. Seperti Yope, Andreas hanya memiliki satu orang tua. Ayahnya sudah meninggal dan, meskipun ibunya masih hidup, ia tinggal dengan ibu tirinya. Seperti Yope, ia didekati secara langsung. “Mereka bertanya apakah saya ingin melanjutkan studi saya di Jakarta secara gratis,” kata Andreas. “Kepala polisi tidak pernah berbicara dengan ibu tiri saya tapi dia berbicara dengan paman saya, adik ayahku, dan dia setuju. Saya lahir Kristen dan saya akan selalu menjadi orang Kristen. Kepala polisi hanya berkata kita akan dimasukkan ke dalam kost. Jika saat itu dia memberitahu kami itu adalah pesantren, tidak satupun dari kami akan pergi. ”

Ketika tiba harinya untuk berangkat, Andreas mengatakan 19 anak laki-laki masuk ke pesawat Hercules C-130 di Wamena. Yang termuda dari mereka berusia lima tahun. Pesawat itu dipiloti oleh orang-orang berseragam. Sulit untuk memverifikasi apakah militer secara resmi terlibat, tetapi seorang mantan panglima militer pernah mengatakan warga sipil Papua yang diizinkan untuk membeli tiket murah untuk terbang dengan pesawat militer adalah bagian dari “corporate social responsibility” militer. “Kami tidak berbicara kepada para prajurit,” kenang Andreas. “Kami takut.”

Butuh waktu dua hari bagi mereka dengan pesawat itu mencapai Jakarta dan, “kami tidak diberi atau ditawarkan makan atau minuman. Beberapa dari kami, terutama yang kecil, jatuh sakit … ada beberapa yang  muntah-muntah,” kata Andreas. “Ketika mereka datang ke kampung saya, saya benar-benar ingin pergi. Tapi ketika saya berada di pesawat, yang saya pikirkan hanyalah, ‘Saya ingin kembali ke kampung saya.” “Ketika mereka mendarat di Jakarta, kemudian anak-anak diantar ke rumah baru mereka – Pesantren Jamiyyah Al-Wafa Al-Islamiyah. Perjalanan ke pesantren itu sekitar tiga jam.  Pesantren ini terletak di tempat yang tinggi di lereng gunung Gunung Salak, di belakang kota Bogor. Kepala sekolah yayasan Al-Wafa, Harun Al Rasyid, masih mengingat Andreas Asso dan anak-anak dari Wamena, dan orang-orang yang membawa mereka, Amir Lani dan Aloysius Kowenip, yang ia sebut sebagai “Aloy”. Dua orang ini datang dan “menawarkan siswa” pada tahun 2005, kenangnya. “Aloy ambisius dalam politik, dan membawa anak-anak untuk pesantren saya adalah cara dia untuk meningkatkan posisinya atau citra di masyarakat,” kata Al Rasyid.

Meski dalam banyak hal, mereka sangat berbeda, namun menurut Andreas Asso, mereka setuju pada satu hal : anak-anak dari kampung di pegunungan Papua yang liar tidak pantas disitu.  “Itu tidak seperti sekolah karena di sekolah mereka punya kelas,” kata Andreas. “Untuk yang satu ini, kami semua hanya pergi ke sebuah masjid besar dan belajar tentang Islam itu dan membaca Alquran. Kadang-kadang mereka menampar wajah kami dan memukuli kami dengan tongkat kayu. Mereka bilang kami orang Papua hitam, kulit kami gelap. ”

Makanan dan pendidikan di Al-Wafa memang gratis tapi soal agama sangat ketat. Gurunya berasal dai Yaman dan didanai oleh Arab Saudi. Website mereka menggambarkan Al-Wafa sebagai  Salafi sholeh, atau “Salafi saleh”. Tujuannya: “Menyiapkan kader pengkhotbah dan orang-orang yang bisa “memanggil” orang lain untuk masuk Islam.” Andreas menegaskan bahwa, seperti juga dirinya, beberapa anak-anak lain juga beragama Kristen, dan kepala sekolah merubah nama lima orang dari mereka  untuk membuat mereka terdengar lebih Islami – tudingan yang kemudian dibantah oleh Al Rasyid. Untuk hal ini, Al Rasyid mengatakan orang Papua itu merupakan masyarakat tertinggal yang tak punya guru,  “karena latar belakang budaya mereka berbeda”.

Dia mengatakan anak laki-laki kencing dan buang air besar di halaman sekolah dan mencuri hasil panen tetangga. Al Rasyid mengakui menghukum mereka dengan “memarahi” dan memukul mereka “dengan rotan di kaki”. Sekitar dua atau tiga bulan setelah mereka tiba, Nisan Aso, seorang anak yang sakit-sakitan, akhirnya meninggal.

“Dia berusia 10 tahun,” kata Andreas. “Dia sudah sakit di Wamena tapi … dia meninggal. Jenazahnya masih di Bogor karena pondok pesantren tidak punya uang untuk mengirim jenazah Nisan kembali, meskipun orang tuanya ingin jenazah anaknya itu dikirim kembali.” Al Rasyid tak ingin mengomentari nasib Nison itu. Setelah kurang dari satu tahun, jelas jika percobaan untuk keduanya,  anak laki-laki dari Papua dan juga sekolah, gagal, sehingga Amir Lani dipanggil. Andreas mengatakan ia memohon kepada Amir Lani untuk membawanya pulang, namun ditolak. Sebaliknya, Lani malah membawa mereka ke Jakarta  dan diserahkan kepada, Ismail Asso, seorang Papua lainnya, yang pernah menjadi murid “import” yang namanya sudah diubah. Ismail berkata pada anak-anak yang diserahkan padanya itu bahwa tidak ada cukup uang untuk mengembalikan mereka ke Papua. Orang tua mereka, tampaknya, tidak pernah diberitahu.

Beberapa siswa kemudian ditempatkan di pesantren baru di Tangerang, dekat Jakarta. Tapi kemudian mereka diusir juga dari sana, karena, menurut Ismail Asso, “Anak-anak itu memang sudah nakal sejak di Papua.” Tapi Andreas tinggal di luar sekolah dan malah bekerja sama dengan anak lain, Muslim Lokobal, “yang juga seorang Kristen tetapi diberi nama ‘Muslim'”. Keduanya melakukan cara mereka sendiri untuk hidup di kota besar.

Jika ditelusuri lebih dalam, kisah ini memperlihatkan detail masalah yang terus menerus terjadi, – nama, waktu dan usia. Nama telah berubah, akar mereka dihapus, dan anak-anak kampung ini jarang tahu usia mereka sendiri. Yang tragis di akhir cerita tentang Yope Lokobal ini, kemungkinan, dia (Yope Lokobal) adalah anak yang sama yang dikenal oleh Andreas Asso sebagai Lokobal Muslim.

Sebab Andreas mengatakan bahwa satu malam Muslim mabuk. Namun tidak ada saksi mata di kejadian berikutnya. “Dalam perjalanan kembali ke rumah kos, Muslim membuat masalah dengan masyarakat setempat, sehingga mereka memukulinya dan membunuhnya. Mereka menempatkan tubuhnya di dalam asrama. Dan karena mereka membencinya, mereka mengeluarkan salah satu matanya dan menempatkan botol di rongga matanya. “Apakah adegan mengerikan ini menggambarkan kematian Yope? Ataukah Muslim Lokobal adalah laki-laki yang berbeda dari Yope?

Kembali di desa Megapura, mereka mendapat sedikit informasi.  “Ada telepon dari Jakarta ke masjid di Megapura, dan orang-orang dari masjid menyampaikan pada kami,” kenang Johanes Lokobal. “Tidak ada penjelasan tentang bagaimana Yope meninggal.” Kata saudara tiri Elias: “Itu tahun 2009 atau 2010. Kami hanya mengadakan upacara berkabung di rumah, berdoa..” Tidak ada yang tahu di mana tubuh Yope dikuburkan.

Sisa dari anak laki-laki yang dibawa oleh pesawat Hercules saat itu akan berusia 20-an sekarang. Terakhir kali Andreas Asso mendengar tentang mereka, di Jakarta, mereka sedikit lebih baik dari pengemis – “pengamen jalanan atau bekerja di angkutan umum – pembantu pembalap, atau kernet angkutan umum. ” katanya. Tidak diketahui berapa banyak kelompok anak-anak yang diorganisir oleh Amir Lani dan Aloysius Kowenip untuk dibawa ke luar Papua. Teronce Sorasi, seorang ibu dari Wamena, mengatakan bahwa tahun 2007 atau 2008, ia pernah didekati oleh  seorang kepala polisi, yang memintanya untuk mengirim putrinya, Yanti, yang berusia lima tahun, dan putranya, Yance yang berusia 11 tahun, ke Jakarta, meskipun “mereka adalah keluarga Kristen”. “Saya berkata, ‘tidak’ karena suami saya baru saja meninggal dan kami masih berduka,” kata Sorasi.

Amir Lani masih tinggal di sebuah villa di perbukitan dekat Megapura. Menurut Elias, setiap kali orang bertanya kepadanya tentang anak yang hilang dari Wamena, “dia hanya menghindari mereka”. Ketika saya berbicara dengan Aloysius Kowenip melalui telepon, ia malah berkata, “Jika salah satu dari mereka menjadi seseorang, maka, sebagai orang Papua, saya bangga dengan itu.” Namun ketika ditanya tentang orang yang meninggal atau gagal, Kowenip tiba-tiba mengakhiri pembicaraan di telpon. Beberapa hari kemudian, temannya, Ismail Asso menelpon saya dengan marah, dan dua kali mengancam melalui SMS. “Saya mengingatkan Anda … jangan menggali informasi tentang Islam dari Wamena,” tulisnya, jika tidak “wartawan asing provokatif” akan “dideportasi dari Indonesia”, atau “dipecat, dibunuh oleh [orang] Wamena” .

Pemindahan internal anak-anak memiliki sejarah panjang dan “sedikit memalukan” di Indonesia. Sekitar 4500 anak telah dibawa dari Timor Leste selama 24 tahun pendudukan Indonesia untuk melayani, dalam kata-kata penulis Helene van Klinken dalam bukunya, Making them Indonesia, “dakwah agama Islam”, dan untuk mengikat daerah lebih dekat ke Jakarta. Anak-anak, ia menulis, dipilih karena mereka “mudah dipengaruhi dan mudah dimanipulasi untuk melayani tujuan-tujuan politik, ras, ideologi dan agama”.

Papua telah menjadi target sejak dulu. Pada tahun 1969, mantan presiden Soeharto mengusulkan untuk membawa 200.000 anak-anak dari “Papua yang terbelakang dan primitif, yang masih hidup di zaman batu” ke Jawa untuk pendidikan. Satu kelompok yang didanai Arab Saudi, DDII, digunakan untuk membawa anak-anak dari Timor Timur dan Papua. Dan hari ini, AFKN, yang terkait dengan premanisme, garis keras Front Pembela Islam (FPI), secara aktif mencari anak-anak untuk direkrut.

Daarur Rasul, sekolah setengah pesantren, adalah bangunan semi permanen di kota satelit Jakarta yang disebut Cibinong. Di sini, sekitar 100 anak laki-laki dari dataran rendah Papua bagian Barat, setengah melingkar hingga ke pintu gerbang yang berat, menyambut kami. Pintu gerbang terkunci karena menurut salah satu staf Daarur Rasul, “mereka ingin melarikan diri”. Empat puluh atau lebih anak perempuan tinggal di bagian bawah bawah dengan lebih sedikit kebebasan. Kepala sekolah Ahmad Baihaqi menegaskan ia mengajarkan Islam moderat, dan setidaknya anak-anak ini berusia sekitar tujuh tahuh, tetapi beberapa dari mereka terlihat lebih muda. Dia tidak menyangkal mereka dikurung, tetapi ia mengatakan itu hanya selama jam belajar “untuk mengajarkan disiplin pada mereka”.

Pada tahun 2011, empat anak laki-laki melarikan diri dan mengklim jika mereka tidak hanya dipaksa untuk bekerja di lokasi konstruksi, tapi juga di sekolah, mereka dibiarkan lapar, minum air mentah dan hanya diajarkan agama Islam, bahasa Indonesia dan matematika. Baihaqi menegaskan anak-anak itu membesar-besarkan.  Anak-anak itu,  mereka telah “nakal” sebelum mereka tiba di sekolahnya. Dia mengakui bahwa kadang-kadang murid-muridnya melakukan pekerjaan di lokasi konstruksi, tetapi mereka menikmatinya. Pelajaran untuk anak laki-laki dimulai pada jam 04:00 dengan mengaji.  Sekolah kemudian berlanjut, istirahat dan tidur siang, sampai jam 21.00, di mana ada tujuh jam doa dan membaca Al-Quran dan hanya 3,5 jam untuk “ilmu alam, ilmu sosial, membaca dan menulis”.

Baihaqi mengatakan ia merekrut siswa baru di Papua setiap tahun dan ia bersumpah bahwa orang tua anak-anak yang direkrutnya memberikan persetujuan mereka. Anak-anak ini  pulang ke kampungnya setiap tiga tahun. Mereka tidak boleh melupakan orang tua mereka, katanya, dan orang tua mereka setuju dengan peraturan ini.

Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Perlindungan Anak di Indonesia, mengatakan memisahkan anak-anak selama itu “berarti menghapus akar budaya mereka”, terutama jika nama dan agama mereka juga diubah. “Ini sangat berbahaya,” tambahnya. Tapi Departemen Agama di Indonesia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena ini didorong oleh fakta, Direktur Pendidikan Diniyan dan Pondok Pesantren, A Saefudin,  mengatakan “Semakin lama Anda tinggal [di pesantren], semakin banyak Anda mendapatkan berkah.”

Komisi Perlindungan Anak Indonesia, KPAI, juga optimis. Wakil ketua Asrorun Ni’am, yang juga anggota senior Dewan Fatwa MUI, badan penasehat Islam pemerintah, lebih khawatir tentang “sentimen keagamaan” yang mungkin bangkit karena menulis kisah ini. “Itu melawan semua upaya untuk membangun suasana yang harmonis,” katanya memperingatkan.

Peraturan sudah sangat jelas. Konvensi PBB tentang Hak Anak, di mana Indonesia merupakan salah bagian didalamnya, mengatakan anak-anak tidak boleh dipisahkan dari keluarga mereka karena alasan apapun, bahkan kemiskinan. Dan UU Perlindungan Anak Indonesia memberikan hukuman penjara lima tahun bagi mereka yang mengkonversi agama anak-anak menjadi berbeda dari keluarga mereka. Di Papua, tokoh agama memiliki sedikit kekhawatiran jika memindahkan anak-anak Papua merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membanjiri penduduk pribumi, “Ini adalah proyek jangka panjang Indonesia untuk membuat Papua tempat bagi Islam,” kata Ketua Gereja Baptis Papua, Socratez Yoman. “Kalau Jakarta ingin mendidik anak-anak Papua,” kata Benny Giay salah satu pemimpin Kristen di Papua, “mengapa mereka tidak membangun sekolah di Papua?”

Kami tidak bisa memastikan apakah pemerintah Indonesia atau lembaga negara lainnya aktif dalam pemindahan anak-anak ini. Tetapi beberapa organisasi memiliki dukungan tingkat tinggi. AFKN didanai oleh zakat (sedekah) yang disampaikan melalui organisasi amal negara di Bank BRI; Aloysius Kowenip malah berbicara tentang pendanaan “pemerintah daerah”; para pendonor Daarur Rasul yang meliputi “beberapa petugas polisi dan militer” yang bertindak secara pribadi, dan setidaknya satu kelompok dibawa  oleh sebuah pesawat militer.

Mungkin, seperti juga pemindahan anak-anak di Timor Leste yang terdokumentasikan dengan baik, operasi di Papua tidak memiliki dukungan pemerintah tetapi mereka menikmati “ketenangan” pada masyarakat kelas atas Indonesia. Andreas Asso selamat untuk menceritakan kisahnya, tapi ia tetap marah karena ia ditipu untuk meninggalkan rumahnya di pegunungan, lalu nasibnya tak dipedulikan.

“Aku bisa mendapatkan pendidikan ada di Wamena. Beberapa teman saya yang tinggal telah lulus dari sekolah … Cita-cita saya adalah menjadi seorang polisi. Tapi saya melihat ke belakang, dan saya tidak mencapai apa-apa.”*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s