Kekerasan Polisi Terhadap Warga!


Sabtu (5/6/10), sekitar jam 19.30 WIT, saya mengendarai motor saya untuk pulang ke rumah. Seperti biasa, perjalanan dari Waena ke Angkasa akan menjumpai kemacetan di beberapa titik ruas jalan Abepura hingga Kota Raja.
Padang Bulan, titik pertama kemacetan sudah saya lewati. Titik berikutnya adalah Lingkaran Abepura. Saat sampai di depan Koramil Abepura, kemacetan mulai terasa. Saat saya memperlambat laju motor saya, tiba-tiba sebuah motor bebek nyelonong dari sebelah kiri, tepat sekitar 5 meter di depan saya. Motor tersebut terhuyung-huyung. Pengendaranya mencoba menguasai motor yang dikendarai agar tak jatuh. Meski agak gelap, saya bisa lihat bahwa motor itu ditumpangi oleh 2 orang laki-laki Papua. Tampaknya dua orang laki-laki dari pegunungan. Keduanya tak menggunakan helm. Laki-laki yang dibonceng langsung melompat dari motor. Ia kemudian menuju sebuah Kijang Pick Up yang sedang keluar dari tempat parkir sebuah toko di samping Koramil. Pick Up inilah yang sepertinya membuat beberapa kendaraan harus berhenti. Rupanya, Kijang Pick Up ini yang menabrak motor tadi.
Si pengemudi Pick Up tampak terdiam saat laki-laki yang melompat dari motor tadi berbicara padanya. Saya tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh keduanya. Tapi sepertinya laki-laki pegunungan tersebut menumpahkan kekesalannya karena ditabrak oleh Pick Up tersebut. Temannya, yang mengendarai motor bebek tadi tampak menunggu di pinggir jalan, masih di atas motor yang dia kendarai. Mesin motor masih menyala.
Tiba-tiba, seorang polisi mendatangi laki-laki pegunungan yang sedang bicara dengan pengemudi Pick Up tersebut dari arah Lingkaran Abepura. Si polisi, sambil berteriak, mengayunkan tongkat yang dipegangnya pada laki-laki tersebut. Saya tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh si polisi, tapi sepertinya laki-laki pegunungan tersebut tidak terima dengan perlakuan si polisi pada dirinya. Tiba-tiba saja keduanya terlibat pertengkaran dan tak lama kemudian keduanya terlibat perkelahian di tengah jalan raya. Sontak, orang-orang yang lalu lalang di jalan tersebut berhenti dan memperhatikan perkelahian tersebut. Saya masih tetap berada di atas motor saya. Saat keduanya terlibat perkelahian tersebut, laki-laki pegunungan satunya, yang mengendarai motor bebek yang tadi ditabrak oleh Pick Up langsung meninggalkan temannya yang sadang berkelahi dengan polisi.
Beberapa warga masyarakat yang menghentikan kendaraan mereka karena perkelahian antara polisi dan laki-laki pegunungan tersebut tiba-tiba berteriak, “Tangkap dia, tangkap dia!” sambil menunjuk-nunjuk laki-laki pegunungan tersebut. Mendengar teriakan tersebut, si laki-laki pegunungan sepertinya menduga bahwa ia akan menjadi korban amuk massa. Ia langsung mencoba keluar dari perkelahian untuk mencoba lari dari lokasi. Tapi si polisi terus mengayunkan tangannya ke arah laki-laki tersebut. Saat laki-laki pegunungan tersebut melihat celah untuk lari, beberapa laki-laki yang ada di lokasi tersebut mencoba mengejarnya. Saya sendiri harus meninggalkan lokasi tersebut karena kendaraan lainnya mulai melanjutkan perjalanan mereka. Selanjutnya, saya tak tau apa yang terjadi pada laki-laki pegunungan tersebut.
Beginikah perilaku seorang Polisi? Walaupun saya melihat ada kesalahan pada kedua pengendara motor bebek tersebut karena tidak menggunakan helm, tapi apakah layak si polisi mengawali sebuah kekerasan di hadapan masyarakat? Ataukah kesalahan ada pada pengendara mobil Kijang Pick Up yang menabrak motor bebek tersebut? Ataukah ada kesalahan lain yang dibuat oleh kedua laki-laki pegunungan tersebut? Yang jelas, polisi tersebutlah yang mengawali perkelahian di hadapan warga dan memancing tindakan amuk massa. Jika begini cara polisi menangani masalah, tidak heran jika banyak orang Papua yang mati karena ulah polisi. Jika di tengah kota seperti Jayapura saja seorang polisi bisa bertindak seperti ini, bagaimana dengan di daerah pedalaman Papua? (VCM)

3 comments

  1. erick yoku

    Polisi itu fungsinya melindungi “masyarakat”. Masyarakat yang punya kesamaan dengan dia(polisi-red). Kita coba melihat ke belakang tentang berita beberapa hari lalu, ketika 2 wartawan Perancis dideportasi karena meyalahgunakan pasport mereka di Indonesia(Papua-red). Hal ini merupakan bukti ketakukan oleh polisi atau aparat keamanan lainnya di Papua agar perilaku mereka tidak dapat diekspos ke dunia Internasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s