“Musim Gugur” di Langda dan Bomela


tabloidjubi.com JUBI – Nuansa krisis pangan yang belakangan disebut sebagai kelaparan di Yahukimo terlihat sangat kental. Sekalipun fisik orang-orang kampung tersebut terlihat prima, namun raut wajah masyarakat kampung tersebut tidak bisa menyembunyikan kesulitan yang sedang mereka hadapi.

“Selama April sampai November, kami seperti ini sudah. Kwaning Kume! Hujan turun terus sampai kami pu kebun basah sekali. Setiap tahun memang seperti ini, tapi “Musim Gugur” sekarang lebih parah daripada “Musim Gugur” tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang mati tahun ini karena kekurangan makanan.” kata Ayub Balyo, pendeta yang sudah melayani di Distrik Langda dari 1991.
Pernyataan Ayub Balyo ini dibenarkan masyarakat Langda lainnya. Menurut sebagian besar masyarakat yang ditemui Jubi, selama April hingga Oktober setiap tahun, Langda akan selalu diguyuri hujan. Selama bulan ini pula tanah di Langda akan sangat basah sehingga sulit untuk tanaman di kebun bisa berproses dengan baik untuk menghasilkan umbi seperti pada Desember hingga Mei . Curah hujan yang tinggi juga mengancam kebun-kebun yang terletak di lereng gunung atau tebing. Jika sangat basah, maka kebun-kebun tersebut akan hilang ditelan longsor. Periode April hingga Oktober – November inilah yang disebut oleh Masyarakat Langda sebagai “Musim Gugur”.
“Kalau bapak lihat dari atas, banyak tanah yang longsor. Itu baru-baru saja waktu “Musim Gugur” tahun ini . Banyak kebun yang hilang. Jadi masyarakat cari tempat lain untuk bikin kebun lagi.” lanjut Ayub Balyo.
Berbeda dengan pemahaman masyarakat kota pada Musim Gugur di negara-negara empat musim, “musim gugur” di Langda ini justru memberikan kesempatan pada dedaunan tumbuhan di sana mengalami masa terbaiknya setiap tahun. Tanaman di kebun akan rimbun tertutupi daun. Demikian juga dengan hutan-hutan di sekitar Langda. Lereng-lereng bukit akan dipenuhi rumput. Namun hanya daunnya saja yang terlihat subur. Tanaman umbi-umbian seperti Keladi, Singkong maupun Ubi Jalar tidak akan menghasilkan umbi yang sempurna sebagaimana di periode Desember hingga Mei – Juni. Tanaman seperti Kelapa Hutan juga tidak akan berbuah. Berharap Buah Merah? Letak Langda yang cukup tinggi membuat Buah Merah cukup sulit tumbuh di Langda. Praktis hanya sayur-sayuran yang bisa tumbuh dengan baik pada periode “Musim Gugur” ini. Tanaman lainnya yang biasa dikonsumsi masyarakat untuk bertahan hanya tebu dan pisang.
Curah hujan yang tinggi pada periode ini memang tidak menggenangi kebun masyarakat. Hal ini bisa jadi karena struktur tanah di Langda lebih menyerupai struktur tanah lempung dan kebun masyarakat terletak pada kemiringan yang curam. Curah hujan yang tinggi selama periode ini membuat tanaman di kebun maupun hutan kekurangan unsur hara. Struktur tanah di Langda juga menyebabkan kandungan air di tanah lambat untuk berkurang. Dalam berbagai kajian tentang hubungan tanah dan air, tanah-tanah yang biasa mendapatkan curah hujan tinggi, biasanya rawan terhadap kerusakan struktur tanah. Juga mengakibatkan daya rekat agregat lemah, penurunan potensial redoks, peningkatan PH tanah asam, penurunan PH tanah basa, hingga perubahan keseimbangan hara. Kondisi ini akan menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah. Kajian-kajian ini setidaknya bisa menjelaskan mengapa tanaman umbi-umbian di Langda tidak bisa menghasilkan umbi yang baik selama periode “Musim Gugur” ini, bahkan membusuk.
“Ya kalau “Musim Gugur” seperti ini, kami hanya makan sayur-sayur hutan, Daun Paku, Tunas Kelapa Hutan, Sayur Lilin, Labu Siam, Daun Gedi atau Daun Ubi saja. Tidak ada Ubi atau Keladi yang bisa kami makan. Banyak yang busuk atau tidak ada isinya. Paling kami bisa makan pisang muda yang kami bakar.” terang Bani Nabyal, warga setempat yang selama ini membantu mengajar anak-anak SD Langda.
Pengamatan Jubi pada kebun-kebun masyarakat setempat membenarkan apa yang disampaikan oleh Bani Nabyal. Meskipun ubi jalar terlihat subur tumbuhnya dan sudah saatnya di ambil umbinya, tapi saat digali, tidak ada isinya sama sekali. Yang ada hanya akar sebesar jari kelingking atau sapu lidi. Jika ada yang sedikit besar, paling hanya satu dua umbi dari satu rumpun ubi jalar. Demikian juga halnya dengan Keladi, tidak ada umbinya sama sekali.
Selama “Musim Gugur” ini, pola makan masyarakat Langda berubah. Jika biasanya mereka makan sebelum berangkat ke kebun, kemudian siang hari makan di kebun dan selanjutnya makan ketika kembali dari kebun maka saat “Musim Gugur” ini masyarakat hanya makan satu kali sehari. Bahkan tiga hari sekali baru bisa makan. Kalaupun ada makanan tentunya buat anak-anak.
Simon Maling, pelajar SMP Langda mengakui dia hanya makan sekali sehari, yakni sore hari setelah pulang dari kebun. Itupun jika dia bisa membawa pulang sayur atau daun-daun di kebunnya. Kalau tidak ada yang bisa ia bawa pulang, Simon harus menunggu sampai keesokan harinya. Itupun jika ia bisa mendapatkan sesuatu di hutan milik keluarganya. Simonpun harus belajar di sekolah dengan perut kosong. Simon hanyalah satu dari 43 siswa SMP Langda dan 143 siswa SD Langda yang belajar dengan perut kosong alias tahan lapar.
Pengakuan Ibu Yohana Kipka, yang membantu memasak untuk Jubi lebih mencengangkan lagi. Meski lagi hamil anak ke empatnya, kini dia tinggal sendiri mengurus anak-anaknya. Suaminya sakit dan sudah enam bulan tinggal di Wamena. Karena ia bukan Orang Asli kampung Langda melainkan dari kampung Alirji (sekitar 7 jam perjalanan dari Langda). Sehingga dia tak punya kebun di Langda. Ia bersama ketiga anaknya tergantung dari para tamu yang ke Langda dan tinggal di rumah Klasis GJPI. Ia bertugas memasak makanan buat tamu-tamu yang menginap di rumah klasis. Namun tidak setiap hari ada tamu yang datang, paling hanya pilot yang terjebak kabut. Sehingga tidak bisa kembali ke Wamena atau Dekai dan Sentani, Pelayan Jemaat atau turis. Paling banyak dalam setahun hanya 3 sampai 5 kali orang yang berkunjung.
“Bapak datang ini baru saya dan anak-anak bisa makan. Kalau tidak ada tamu, saya tunggu sampai ada yang datang panggil saya bantu mereka di kebun. Nanti mereka kasih ijin saya ambil daun-daun dan kayu bakar di kebun milik mereka. Kalau tidak ada yang datang panggil saya, baru saya lihat apa yang ada di sekitar rumah yang bisa dimakan.” ujar Yohana. Yohana sendiri berencana jika kehamilannya sudah mencapai bulan kedelapan, ia akan berjalan kaki bersama anak-anaknya yang berusia 10 tahun, 5 tahun dan 3 tahun ke kampungnya di Alirji untuk melahirkan di sana. Perjalanan ke Alirji ini menurut Yohana bisa mencapai 9-12 jam.
“Di sini kami perempuan melahirkan sendiri. Biasa dibantu oleh keluarga saja. Jadi saya harus pulang ke kampung sendiri untuk melahirkan di sana. Saya tidak punya keluarga di Langda,”tutur Yohana mengenai alasannya pulang ke kampungnya untuk melahirkan.
Masyarakat Langda juga menyesalkan polemik yang muncul setelah krisis pangan di Yahukimo mencuat Agustus lalu. Terutama mengenai pernyataan para pejabat Papua yang seolah-olah menyangsikan adanya krisis pangan di kampung mereka.
“Ya, Sekretaris Daerah pernah datang ke Langda setelah kasus ini dilaporkan oleh Yakpesmi. Tapi mereka cuma sampai lapangan terbang saja. Tidak turun ke kampung-kampung. Bagaimana mereka bisa tahu situasi sebenarnya kalau hanya satu jam saja putar-putar di lapangan terbang terus pergi lagi?” jelas Petrus Balyo.
Dia menambahkan setiap tahun mereka mengalami masalah ini.”Tapi kami diam saja. Baru kali ini kami menyampaikan karena kondisinya sangat parah dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk apa kami tipu,” tegas Petrus Balyo.
Bantuan beras 1,4 ton dari 3 ton yang dijanjikan Pemkab Yahukimo sudah di drop. Namun belum menjawab krisis pangan. Sekitar 6000 penduduk Langda dari 12 Kampung di distrik tersebut tak cukup menerima bantuan beras 3 ton. Jika dibagi ke kampung kampung maka masing-masing mendapat jatah 250 Kg. Ini sama dengan 0,5 Kg beras setiap orang. Satu haripun habis. Selanjutnya bagaimana?
Masyarakat Langda telah membuktikan diri mereka bisa bertahan terhadap krisis pangan dari tahun ke tahun. Tapi tetap saja “Musim Gugur” adalah sumber malapetaka bagi masyarakat yang hidup di atas awan ini. (JUBI/Victor Mambor)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s