Jakarta dan Moskow Tak Pernah Bicara dengan Masyarakat Biak


tabloidjubi.com JUBI – Rencana pemerintah Indonesia dan Rusia membangun pangkalan peluncuran satelit di Pulau Biak, sampai saat ini terus mengundang banyak reaksi. Salah satunya berasal dari Dewan Adat Byak yang tegas-tegas menolak pembangunan pangkalan peluncuran satelit tersebut. Berikut wawancara Jubi dengan Ketua Dewan Adat Byak, Yan Pieter Yarangga (Mananwir Sup Biaki).

Apakah Bapak pernah mendengar bahwa Indonesia pernah menolak pembangunan pangkalan peluncuran rocket Australia di pulau Christmas?
Kami dengar kasus peluncuran itu dan dokumennya ada kami simpan sampai sekarang

Dengan kata lain, dulu Indonesia menolak Australia membangun pangkalan peluncuran di Pulau Chrismast dengan alasan resiko yang harus ditanggung Indonesia, tapi sekarang malah Indonesia sendiri yang ingin membangun sebuah pangkalan peluncuran satelit di Pulau Biak. Tanggapan bapak?
Peluncuran satelit di Biak sudah jelas memberikan dampak yang merugikan bagi masyarakat. Kasus peluncuran satelit ini dipaksakan oleh pemerintah pusat karena ada kepentingan-kepentingan tertentu, Kami melihat ini sebagai unsur kesengajaan dengan latar belakang politik. Tidak ada sosialisasi yang jelas kepada masyarakat baik dari pemerintah Kabupaten Biak Numfor sendiri maupun dari pemerintah pusat kepada masyarakat mengenai proyek peluncuran satelit dan apa keuntungannya bagi masyarakat. Ini merupakan permainan politik dari pemerintah pusat. Bukan hanya di Biak saja tetapi di Papua ini persaingan politik yang merugikan masyarakat Papua terus dimainkan dari berbagai segi. Kami sebagai masyarakat atau penduduk di Biak menolak peluncuran satelit ini karena merupakan kesalahan besar. Pemerintah pusat telah melecehkan orang Papua. Untuk itu kami akan meminta dukungan dari luar untuk melihat persoalan ini.

Jadi, tidak dilihat ada kepentingan bisnis didalamnya ?
Ini merupakan kepentingan bisnis sehingga pemerintah pusat tutup mata. Dalam kepentingan bisnis tersebut ada permainan politik yang dimainkan oleh pihak tertentu. Pihak-pihak ini ini yang membuat kota Biak digadaikan begitu saja dan mengatur semuanya seolah-seolah di Biak itu tidak ada masyarakat. Masyarakat tidak punya hak, masyarakat tidak ada yang tinggal daerah Biak dan masyarakat tidak mempunyai kekuasaan untuk mengatur daerahnya sendiri, itu yang kami tidak terima. Ini semua terjadi karena kesalahan fatal yang dibuat oleh pemerintah pusat di Jakarta.

Laporan Price Waterhouse Cooper, sebuah perusahaan auditor terkemuka, tahun 2006 menyebutkan bisnis peluncuran satelit ini selama sepuluh tahun kedepan masih bisa menghasilkan dana sekitar 36 trilliun pertahun. Dan sesial-sialnya perusahaan pengelolanya masih bisa menangguk 3,6 trilliun pertahun. Katakanlah proyek ini tetap dipaksakan, apakah masyarakat akan mendapatkan manfaat dari keuntungan tersebut?

Sampai saat ini masyarakat tidak menerima keuntungan apapun dari proyek ini. Dan bukan hanya proyek pembangunan peluncuran satelit ini saja, tetapi dalam kehidupan masyarakat Papua banyak program-program pembangunan yang dibuat namun tidak dirasakan manfaatnya oleh orang Papua. Bukti nyata di Papua ini adalah Implementasi Otsus. Dari segi kesejahteraan dan pelanggaran HAM orang Papua masih belum merasakan perubahan yang signifikan. Orang Papua sampai saat ini masih jadi penonton. Nah sekarang proyek peluncuran ini dibuat, mana keuntungannya bagi orang Papua? Belum apa-apa saja orang Jakarta sudah bikin transaksi. Karena kami melihat banyak pengalaman di Timika dan Bintuni dan lainnya.
Tapi kalau dilihat saat ini kota Biak sudah semakin berkembang. Selama 56 tahun saya pikir waktu yang cukup untuk mempersiapkan orang Papua untuk bersaing di dunia ekonomi dan perkembangan teknologi.

Pemerintah Indonesia membicarakan proyek ini dengan Rusia sejak tahun 1999. Ditahun itu juga Amerika juga menawarkan ide yang sama tapi pemerintah Indonesia tidak menanggapinya. Apakah sejak tahun 1999 sampai sekarang pemerintah pusat sudah pernah bicara baik-baik dengan masyarakat Biak ?
Dari dulu sampai sekarang yang namanya orang Jakarta itu tidak pernah bicara baik dengan orang Biak. Bukan hanya orang Biak saja tetapi semua orang Papua. Orang Papua tidak dilihat untuk diberdayakan tapi yang dilihat oleh pemerintah pusat selama ini adalah bagaimana mengeksploitasi kekayaan alam Papua untuk kepentingan Jakarta. Pemerintah daerah ini pun merupakan pelacur-pelacurnya orang Jakarta. Istilahnya pemerintah daerah ini merupakan bonekanya orang Jakarta. Orang Jakarta bicara sesuatu, dorang bilang ya, ya. Padahal mana keuntungannya buat orang Papua?

Seandainya peluncuran satelit ini dipaksakan juga, itu artinya penduduk Biak harus pindah dan mencari tempat lain. Bagaimana tanggapan Bapak?
Dan kalau memang peluncuran satelit ini dipaksakan maka kemungkinan besar masyarakat Biak akan mengungsi atau tinggalkan kota Biak. Tapi di setiap daerah itu ada hukum adat, begitu juga kami yang ada di kota Biak. Ada hukum adat yang mengatur tanah tumpah darah ini sampai air hayat. Oleh sebab itu kaitannya dengan peluncuran satelit ini maka sejengkal tanahpun tidak akan diambil alih oleh siapapun, baik pemerintah maupun militer. Kami akan siap untuk mempertahankan negeri kami sekalipun harus mengorbankan nyawa kami. Siapapun yang mau berinvestasi dan kepentingan apapun yang mau dibuat di tanah ini harus dibicarakan kepada rakyat, karena rakyat yang memiliki tanah. Di dunia dan di Ahirat Tuhan pasti setuju tanah ini rakyat yang punya.

Beberapa waktu lalu, dua anggota DPR datang ke Papua untuk mengumpulkan informasi mengenai proyek ini. Sebab katanya, DPR pun tidak tahu tentang proyek ini.
Saya berbicara dan berdiskusi dengan mereka, Pihak pemerintah dikabupaten khususnya DPRD dan Bupati seperti tidak tahu menahu tentang masalah ini. Padahal ini persoalan besar antar dua negara yang mau menjual sebagian hak rakyatnya. Pihak pemerintah daerah yang notabenenya orang Papua sendiri malah tidak membela rakyatnya. Begitu juga DPR, mana pekerjaan mereka membela rakyat? Masak orang luar yang mau datang mengaturnya? Berarti saat ini rakyat sendirian yang mempertahankan keadilannya. Oleh sebab itu kami akan menggugat pemerintah yang mengatur rakyat dan membuat keputusan sebab kami masyarakat Biak pada umumnya tidak menerima proyek peluncuran satelit.

Selama ada pendampingan dari lembaga bantuan hukum atau tidak ?
Selama ini kami bekerjasama dengan para ahli hukum yang selama ini mempunyai esensi untuk rakyat, Juga dengan pihak gereja, masyarakat adat dan anak-anak kami yang bergerak di lembaga hukum. Kami bersama-sama siap untuk membawa permasalahan ini ke Jakarta dan sampai ke dunia internasional.

Jika proyek peluncuran satelit ini dipaksakan, walaupun orang Biak akan pindah tetapi kerusakan lingkungan akan tetap terjadi. Juga merusak eksistensi orang Biak sendiri karena selama ini orang Biak dipersatukan dengan bahasa, adat istiadat dan pulau Biak yang sangat indah. Bagaimana tanggapan bapak terhadap ancaman ini?
Menurut saya ada dua pandangan yang harus di perhatikan. Pertama dengan perkembangan teknologi dalam peluncuran satelit ini akan menghancurkan keindahan kota Biak. Ini akan merugikan keturunan yang dari belakang. Jadi keindahan alam ini tidak bisa dihancurkan oleh nilai teknologi. Sudah menjadi komitmen kami untuk tidak menghancurkan alam ciptaan ini. Yang kedua kalau rencana ini dari Tuhan kami terima tapi kalau ini memang rencana dari manusia untuk menghancurkannya, kami akan tolak rencana itu.
Bagi saya sebenarnya proyek ini dibuat oleh manusia untuk menghacurkan masyarakat. Padahal sebenarnya, jika kita hidup sejahtera dengan damai, cukup makan minum, sudah merupakan kepentingan semua. Saya percaya bahwa orang yang merencanakan semua ini akan dikutuk oleh Tuhan saya yakin itu. Kehendak Tuhan untuk menciptakan alam ini agar di jaga oleh manusia dan dirawat. Jadi ini secara adat diwariskan oleh kami untuk menjaga alam ini untuk cucu-cucu kami.

Sejauh ini upaya-upaya apa yang sudah dilakukan oleh Dewan Adat Byak?
Upaya-upaya selama ini yang dilakukan oleh dewan adat adalah berusaha mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat supaya masyarakat mengerti apa itu ancaman, apa itu fungsi dari suatu pembangunan dan juga mendorong idealisme masyarakat untuk mengerti. Pada umumnya kami tidak menolak kemajuan, karena kemajuan itulah yang harus di lalui. Tapi kalau kemajuan teknologi yang menghancurkan kami tolak. Jangan merusak eksistensi yang diciptakan Tuhan untuk manusia, tapi bagaimana kita melindungi pemberian Tuhan tersebut.

Apakah sudah pernah ada sosialisasi dari lembaga penerbangan dan antariksa?
Tidak ada. Pemerintah daerah pun tidak menyampaikan atau sosialisasi kepada kami. Peluncuran satelit ini tidak ada pemberitauan mengenai ancaman atau keuntungan bagi masyarakat dan apa dampaknya terhadap lingkungan.

Apa betul sudah ada analisa dampak lingkungan seperti yang selama ini di katakan?
Tidak ada analisis dampak lingkungan dan lain sebagainya yang disampaikan kepada masyarakat. Maka itu yang akan kami gugat.

Seandainya proyek ini tetap akan dijalankan oleh pemerintah Indonesia dan Rusia, maka bagaimana menurut pendapat Bapak, apakah tetap di tolak atau pemerintah pusat dan pemerintah Rusia harus berurusan dengan masyarakat Biak ?
Didalam undang-undang itu sudah jelas rakyat punya hak. Jadi apapun investasi yang dibangun oleh pemerintah itu harus di sosialisasikan kepada rakyat karena rakyat yang punya hak dan harus di ketahui oleh rakyat. Berdasarkan undang-undang Otonomi Khusus, pembangunan apapun pemerintah harus bicara dengan rakyat Papua, supaya rakyat juga tau apa keuntungan dan kerugiannya. Yang kedua apapun yang mau dilakukan, masyarakat harus di manfaatkan, masyarakat harus mempunyai posisi dan kedudukan yang harus diperhitungkan. Jangan dikira rakyat itu boneka negara. Karena dasar undang-undang kita itu rakyat punya hak suara dan negara kita bersifat demokratis, maka keputusan pemerintah yang notebene dari Presiden jangan mengambil keputusan sendiri dan merugikan rakyat. (Victor Mambor)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s