Habis Microchip, Muncul (Lagi) “Next Generation”


Manusia Unggul Papua ?

JUBI – Belakangan ini, setelah perdebatan microchip untuk ODHA yang sempat membuat Tanah Papua menjadi sorotan masyarakat internasional karena dianggap “nyaris” mempraktekkan kemunduran peradaban, muncul lagi perdebatan tentang konsep Next Generation yang digagas oleh seorang legislator di Dewan Perwakilan Rakyat Papua.

Konsep ini sebenarnya sudah dimunculkan sejak tahun 2006 melalui sebuah Proposal yang kemudian disebutkan oleh beberapa pihak sebagai proposal yang mencatut nama banyak orang. Setelah sempat reda karena penolakan berbagai komponen masyarakat Papua, konsep Klinik Next Generation ini muncul ladi dalam pembahasan Reperdasi Pembangunan Kesehatan di DPRP. Termasuk dalam pandangan Komisi E DPRP (bidang kesehatan) terhadap jawaban Gubernur tentang Raperdasi Restruksasi Organisasi pemerintah provinsi Papua pada rapat Paripurna DPRP di ruang sidang DPRP, awal Desember tahun lalu.
“Harapan untuk melahirkan sebuah generasi baru Papua yang lebih hebat, sangat tidak cukup jika hanya bersandar pada layanan KB KIA yang diterapkan selama ini, karena lebih pada layanan rutinitas
dan untuk catatan dan pelaporan kuantitas semata.”ujar salah satu anggota Komisi E DPRP Papua bidang kesehatan mengenai konsep Next Generation, sebagaimana dilansir oleh sebuah media lokal bulan Desember tahun lalu. Disampaikan juga dalam kesempatan tersebut bahwa tawaran konsep Next Generation bukan hanya sebagai jawaban dan senjata pemungkas untuk merancang dan melahirkan generasi baru Papua yang sehat dan cerdas, tetapi juga sekaligus membentuk sebuah keluarga next generation yang berkomitmen kuat untuk hidup sehat prima, berbudaya, bermoral, beretika baik, beriman dan saling setia, sehingga tidak mudah tertular penyakit enfeksi seksual menular HIV.”
“Konsep ini kemudian batal ketika mendapat perlawanan dari aktivis LSM maupun tokoh-tokoh agama. Tapi konsep ini kemudian diselipkan kembali dalam dua Raperdasi, yaitu Raperdasi Penanggulangan HIV/AIDS dan Raperdasi Pembangunan Kesehatan Papua. Disinilah letak kejelian kita, jika hanya menghilangkan Microchip, namun meloloskan Next Generation bagaimana?” kata Tahi Butarbutar, seperti yang dilansir http://www.tabloidjubi.com (19 January 2009) mengenai muncul kembalinya konsep klinik Next Generation dalam Raperdasi Pembangunan Kesehatan yang diajukan atas hak inisiatif DPRP.
Seperti disebutkan di awal, konsep klinik Next Generation ini pernah beredar pada tahun 2006 dalam sebuah dokumen proposal berjudul : Pembangunan Klinik Next Generation Di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua. Klinik ini akan ditempatkan sebagai pilot project Pembangunan Kualitas Sumber Daya Manusia Papua melalui Program Kehamilan dan Persalinan Bayi-Bayi Unggul Menggunakan Konsep Next Generation. Proposal ini diajukan Kelompok Peduli Kualitas Sumber Daya Manusia Papua , Yayasan Gratia. Tidak main-main, proposal ini bahkan dipresentasikan di Ruang Rapat panmus DPRP pada tanggal 8 Mei 2006 atau undangan ketua DPRP.
Layaknya sebuah proposal, dokumen ini memaparkan latar belakang, maksud dan tujuan, kerangka konsepsional dan teoritis mengenai Next Generation, Susunan Pengurus hingga desain dan denah klinik. Dari dokumen ini bisa disimpulkan bahwa Klinik Next Generation yang digagas melalui Raperdasi Pembangunan Kesehatan adalah sebuah upaya membangun Manusia Unggul di Papua. Klinik ini akan menjadi semacam Pusat Pengembangan Potensi Kualitas SDM Papua melalui pelaksanaan Program Kehamilan dan Persalinan Bayi-Bayi Sehat dengan Potensi Kualitas Otak Unggul. Klinik ini juga akan memiliki fasilitas penanganan bayi tabung. Selain upaya membangun kualitas manusia, klinik ini juga bertujuan mengejar kuantitas manusia Papua yang saat ini memang laju pertumbuhannya sangat memprihatinkan. Singkatnya, klinik ini akan mempersiapkan masa pra konsepsi yang terdiri dari kesehatan fisik, mental dan sistem reproduksi dari kedua calon orang tua (disebutkan sebagai sperma dan ovum kualitas unggul), masa konsepsi, yakni masa 14 hari sebelum Haid, masa kehamilan, masa persalinan hingga masa pasca persalinan. Tujuan semua proses ini adalah menciptakan Manusia Unggul dan meningkatkan populasi manusia Papua.
Menurut penggagasnya (dalam dokumen tersebut) konsep Next Generation ini telah dipresentasikan dalam berbagai pertemuan ilmiah di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Universitas Cenderawasih pada tahun 1994 serta di Merauke dalam acara Simposium Sehari tentang HIV/AIDS dan Konsep Next Generation di Papua dan mendapat sambutan positif dari pihak Dinas Kesehatan, pemerintah Daerah, Uncen dan Guru-Guru Besar Obsgin serta Paediatric dari FKUI.
Proyek Next Generation yang bersifat pemberdayaan multi sektor dan multi disiplin ilmu ini dikabarkan akan menyerap dana sekitar Rp. 24.422.464.000,- yang bersumber dari dana APBD Provinsi Papua (Otsus 2006-2007) serta sumber dana lainnya yang tidak mengikat. Namun ternyata, gagasan ini tidak terlaksana pada tahun anggaran tersebut. Konon, gagasan ini tidak terlaksana karena derasnya penolakan dari komponen perempuan dan agama di Papua.

Gagasan Manusia Unggul
Konsep Konsep “Ras/Manusia Unggul” bukanlah hal baru. Sepanjang sejarah manusia, upaya menciptakan manusia unggul sudah ada pada bangsa-bangsa penyembah berhala atau bangsa-bangsa pagan, sejak berabad-abad yang lalu. Contoh bangsa-bangsa tersebut diantaranya, bangsa Mesir Kuno, Babilonia, Persia-Media, Kartago/Carthage, Sparta, Romawi, bangsa-bangsa barbar Eropa seperti bangsa Hun, Visigoth, Goth dan bangsa Viking di Eropa Utara, bangsa Indian Aztec dan Inca di Amerika Selatan, bangsa Tartar dan Mongolia di Asia Tengah dan sebagainya, termasuk bangsa Arab Jahiliyah sebelum datangnya Islam. Konsep ini menyatakan bahwa bangsa yang berasal dari ras tersebut adalah bangsa yang lebih unggul dari bangsa-bangsa lain, sehingga merasa berhak melakukan penjajahan dan penindasan. Keunggulan itu, menurut kepercayaan mereka, adalah karena mereka lebih berhasil dalam perjuangan mempertahankan hidup daripada bangsa-bangsa yang lain. Kepercayaan seperti ini menimbulkan rasa saling curiga dan tingkat kepercayaan yang rendah. Permusuhan dan pertempuran dapat terjadi setiap saat.
Tentunya ini konsep yang berbeda dengan konsep Klinik Next Generation. Apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa penyembah berhala atau bangsa pagan adalah upaya menciptakan manusia unggul dengan memusnahkan manusia lainnya. Sedangkan Klinik Next Generation sebaliknya, ingin menciptakan manusia unggul melalui pertemuan sel sperma dan sel telur yang juga berarti menciptakan manusia baru.
Namun sejarah manusia juga mencatat adanya sebuah teori Eugenics yang kemudian dipraktekkan oleh Hitler pada masa kekuasaanya. Eugenics berarti ˋperbaikan’ ras manusia dengan cara membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta memperbanyak jumlah individu sehat. Menurut teori tersebut, ras manusia dapat diperbaiki dengan cara yang sama sebagaimana hewan berkualitas baik dapat dihasilkan melalui perkawinan hewan-hewan yang sehat. Sedangkan hewan yang cacat dan berpenyakit dimusnahkan.
Untuk mempercepat laju populasi Ras Arya yang dianggap oleh Hitler paling unggul dari semua manusia di muka bumi ini, ia melaksanakan hal lain yang “diperlukan” dalam Eugenics. Pemuda pemudi berambut pirang bermata biru yang dianggap mewakili ras murni Jerman, dianjurkan untuk saling berhubungan seks. Pada tahun 1935, ladang-ladang khusus reproduksi manusia didirikan. Perwira SS Nazi sering mengunjungi ladang ini, yang didalamnya tinggal wanita muda yang memiliki kriteria ras “Arya”. Bayi-bayi yang lahir di ladang-ladang ini akan menjadi prajurit masa depan Imperium Jerman. Inilah fakta sejarah manusia yang kemudian diingat sebagai kejahatan kemanusiaan terburuk yang pernah terjadi. Fakta-fakta ini bisa ditelusuri dalam buku yang dibuat oleh Hitler sendiri, “Mein Kampf”, yang berarti “Perjuangan Saya”.
Jika disimak lebih jauh, jelas ada kaitan kuat antara teori eugenics dengan teori evolusi, seperti tampak di berbagai publikasi yang menyebarluaskan sains aneh ini. Di antara publikasi tentang eugenics berbunyi, “Eugenics adalah pengaturan mandiri evolusi manusia”.
Sebagaimana dapat diduga, pendukung eugenics adalah para Darwinis. Seperti yang ditulis dalam buku The Disasters Darwinism Brought to Humanity karya Harun Yahya terbitan Al-Attique Publisher Inc. Canada, 2001, dasar berpijak pandangan evolusionis kaum Nazi ada pada konsep eugenics. Jelas ada kaitan kuat antara teori eugenics dengan teori evolusi, seperti tampak di berbagai publikasi yang menyebarluaskan sains aneh ini.
Sir Arthur Keith, seorang evolusionis terkenal berkata tentang Hitler: “Pemimpin Jerman, Hitler, adalah seorang evolusionis; ia dengan sengaja menjadikan Jerman sejalan dengan teori evolusi”. Alasan penting lain mengapa Hitler meyakini evolusi adalah bahwa ia menganggap teori ini sebagai senjata melawan agama. Hitler sangat anti terhadap keyakinan monoteistik. Ajaran agama seperti cinta, kasih sayang dan kelembutan sangatlah bertentangan dengan model ras Arya yang bengis dan kejam. (Victor Mambor)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s