SWOT ANALISIS LINGKUNGAN SENI BUDAYA PAPUA


00021.jpgBackground

Lingkungan seni dan budaya semakin dipengaruhi oleh globalisasi. Kita semakin menyadari implikasi globalisasi terhadap perkembangan seni dan budaya Papua sehingga harus memiliki sebuah komitmen terhadap diri sendiri bagi perkembangan dan pembangunan system industri budaya di Papua sebagai sebuah filosofi praktis yang menghubungkan seni dan budaya kepada fakta-fakta kualitas keragaman khasanah seni dan budaya Papua. Dibutuhkan sebuah kebijakan kolektif dari para pelaku dalam system industri budaya di Papua untuk mewujudkan komitmen ini.
Selama kurun waktu 1998 – 2000, penulis telah melakukan serangkaian penelitian terhadap organisasi/kelompok seni budaya di 13 Kabupaten di Papua (sebelum pemekaran). Penelitian ini dilakukan dalam rangka pembuatan Direktori Organisasi Seni dan Budaya Indonesia 2000 atas prakarsa Yayasan Kelola dan bantuan dana penelitian dari The Ford Foundation. Hasil penelitian ini sudah diterbitkan dalam Buku “Direktori Organisasi Seni dan Budaya Indonesia 2000”.
Laporan Analisa Hasil Penelitian Organisasi Seni Budaya Indonesia 2000 yang dilakukan penulis, mengidentifikasikan bahwa pekerja seni budaya, administratornya dan lingkungannya di Papua memiliki sejumlah masalah dalam pembangunan sikap profesionalisme yang dibutuhkan. Laporan ini menggunakan 3 metode, penyebaran kuisioner (125 dikirimkan kembali dari 147 yang dikirimkan), 24 wawancara dan diskusi kelompok di Jayapura, Manokwari, Biak, Sentani dan Timika dengan organisasi seni dan budaya formal dan informal, institusi pemerintahan, LSM, pekerja seni dan budaya serta pelaku bisnis. Laporan analisa ini dibuat dalam 4 bagian ; 1. Background, 2. Problems, 3. Project approach and description , 4. Theme and Activities. Namun dalam kesempatan ini penulis hanya memaparkan bagian pertama dari keseluruhan hasil analisa.
Hasil utama yang tergambarkan mengindikasikan dibutuhkannya penguatan kapasitas, baik secara individu maupun kelembagaan, terhadap respondent yang dirancang dengan fokus-fokus yang mencerminkan isu-isu kontekstual seluas-luasnya dengan pola-pola sederhana yang efektif, efisien dan tepat sasaran.

A.Pengamatan Internal
Pengalaman nyata dari para pelaku seni dan budaya serta organisasi yang bergerak dalam wilayah seni dan budaya di Tanah Papua menunjukkan bahwa sangat dibutuhkan pola-pola pengembangan kualitas dan kapasitas teknis demi menjaga keberlangsungan partisipasi aktif dalam mengkreasikan keragaman seni dan budaya praktis. Keprihatinan tetap ada untuk mengefektifkan apa yang telah mendapat dukungan pemerintah, terutama sekali dalam konteks perubahan struktur sebuah organisasi seni dan budaya yang bersifat dinamis dalam konteks yang disesuaikan dengan kebutuhan local namun berwawasan global dan pencitraan baru dari pengalaman selama ini yang menunjukkan perbedaan antara pendapat masyarakat dengan pemerintah mengenai khasanah seni dan budaya Papua.

External
a.Perluasan pengertian industri budaya
Ada kecenderungan industri budaya dinegara-negara berkembang mengartikan kebudayaan sebagai produk material (dagangan) dan atraksi belaka dengan mengabaikan masalah dan dinamika internal masyarakat pendukungnya. Karena itu diperlukan pengembangan pengertian kebudayaan yang lebih luas dan dinamis dengan mengaitkan persoalan industri budaya dalam konteks social ekonomi yang lebih luas. Termasuk dalam hal ini, kondisi industri budaya dengan jaminan hidup, kreativitas kolektif, kebijakan yang merangsang bagaimana mengintegrasikan kehidupan industri budaya dengan pasar atau menemukan kembali festival budaya sebagai kekuatan budaya.

b.Pengembangan industri budaya berkelanjutan
Kesadaran mengambil peran dalam peradaban telah menjadi gaya hidup internasional. Tidak terkecuali industri budaya. Industri budaya negara-negara maju telah menularkan beragam corak gaya hidup dari yang bernuansa ekologis, konsumtif, agraris, futuristis dan lainnya yang berkaitan dengan transformasi budaya dari tahun ketahun. Namun senatiasa mementingkan daya dukung (caddying capacity) dalam pengembangan industri budayanya. Karena itu perlu dilakukan serangkaian kajian terhadap industri-industri budaya dan budaya industri serta proses pembentukan lembaga pendukungnya. Juga menyusun cetak biru (master plan) tentang pembangunan industri budaya berkelanjutan yang memiliki visi kedepan, yang mampu mengakomodir energi kreatif masyarakat pendukungnya dari berbagai jenis pengucapan.

c.Kebijakan Media & Promosi
Dilakukan upaya kajian terhadap proses globalisasi dan strategi pengembangan media dalam pengembangan industri budaya sebagai media diplomasi kebudayaan dalam interaksi kerjasama internasional. Mempertimbangankan peranan cultural resources sebagai broker budaya yang dapat memperantarai dan memberikan penafsiran terhadap kerja industri budaya yang lebih seimbang. Serta melakukan promosi dan kampanye pola terpadu dan berdimensi budaya dengan mengintegrasikan fungsi-fungsi strategis unsur-unsur yang berkaitan dengan industri budaya.

B.Pokok-pokok pembangunan sikap professional
Pelaku seni dan budaya di Papua yang telah teridentifikasi dalam pembangunan system industri budaya di Papua membutuhkan pengembangan kualitas dan kapasitas teknis dalam bidang bisnis, komunikasi, pemasaran, berorganisasi dan membangun audience/apresian dalam komunitas seni dan budaya. Analisa SWOT mengkonfirmasikan prioritas utama dari pengamatan lapangan dan memberikan gambaran dua hal penting untuk pembangunan system industri budaya di Papua yang kondusif dan produktif adalah (1) materi yang dibutuhkan dan (2) strategi menyampaikan materi tersebut. Kepercayaan membangun strategi, setelah mendukung dan menginformasikan jaringan kerja, akan timbul sebagai sebuah prioritas antar wilayah budaya.
Untuk mengetahui yang diperlukan, membutuhkan pembangunan jaringan kerja pembelajaran bersama yang bisa menopang keputusan bersama, gambaran dari material program sabagaimana sebuah materi baru yang timbul dari lapangan dan memastikan sebuah aturan untuk pembelajaran yang berdasarkan pengalaman sebelumnya. Lingkungan pembelajaran baru yang bersentuhan secara langsung akan membantu proses ini. Pembangunan profesionalisme akan menghasilkan bagian dari dukungan yang tersedia bagi seluruh sendi kehidupan pekerja seni budaya dan administratornya.

C.Pandangan Kontekstual
Lingkungan seni dan budaya Papua telah mengalami peningkatan perubahan oleh kenyataan globalisasi, hal ini merupakan dampak dari semakin cepatnya perkembangan lintas batas dari pekerja seni budaya, ide-ide budaya dan produktivitas. Globalisasi memberikan tantangan dan terbuka untuk setiap kemungkinan baru. Ini bisa menguatkan budaya local atau memfasilitasi interaksi kreatif antara sumberdaya seni dan budaya local dengan dunia. Mau tidak mau, hal ini telah menjadi bagian dari produk globalisasi dengan segala kontradiksinya.
Dalam 15 tahun terakhir telah menandakan pendewasaan dan pengakuan sumber daya seni dan budaya masyarakat Papua, yang didalamnya seni budaya memainkan peran penting sebagai tawaran solusi perubahan cara pandang terhadap masyarakat Papua dengan peluang dan tantangan dari kompleksitas masyarakat Papua sendiri; yang menempatkan seni dan budaya sebagai representasi Papua terhadap dirinya sendiri dan kepada dunia. Tentu saja dengan catatan bahwa penguatan seni dan budaya dikemudikan oleh pengakuan terhadap nilai keragaman budaya. Peran yang kritis untuk dimainkan oleh praktisi seni budaya yang secara cultural berbeda dalam praktek revitalisasi. Tugas kita disini adalah memastikan bahwa pengenalan ini diubah secara efektif kedalam produk seni dan budaya.
Perubahan lingkungan yang sangat cepat dipengaruhi oleh kebijakan utama pemerintah daerah dan satu rangkaian komitmen penting dari para pembuat undang-undang/peraturan. Keseluruhan efek prakarsa ini untuk membangun suatu kerangka lebih kokoh dalam mendukung pengembangan seni dan budaya Papua dan demikian seharusnya mengimbas kedalam masyarakat seni dan budaya. Khususnya perencanaan strategis yang dikerjakan oleh para pembuat Undang-Undang dan peraturan daerah telah menetapkan dimensi dan arah yang luas untuk perubahan paradigma bahwa pemerintah saat ini telah bergerak untuk memberikan dukungan.
Dalam konteks nasional, beberapa kalangan yang berkecimpung dalam wilayah seni dan budaya telah mengajukan kepada pemerintah agar memberikan dukungan pada konsep-konsep pembangunan system industri budaya nasional. Sebagai bagian dari proses ini, kalangan ini juga memperkenalkan peranan produksi budaya sebagai unsur kompleks dalam komunikasi antar masyarakat, suatu posisi yang secara formal diterima oleh pemerintah. Sehingga pemerintah meski memberikan kesanggupan juga menyatakan kondisi yang sangat kompleks ini sulit memberikan jaminan untuk implementasi kebijakan dalam seni dan budaya.
Informasi dari riset sosial dan industri yang luas telah memperkuat tujuan-tujuan yang dilakukan pemerintah terhadap seni dan budaya. Pemerintah telah menyatakan komitmennya dalam konteks riset tentang keseniannya dan masyarakat. Studi itu mengusulkan bahwa “‘ seni dan budaya Papua’ semestinya mewakili suatu arah kebanggaan bagi semua guna mengenali bakat kolektif mereka.”. Lebih jauh studi ini mengargumentasikan bahwa citra kesenian semestinya dipromosikan ” sebagai bentuk toleransi dari perbedaan-perbedaan antar seluruh masyarakat Papua”, dengan melaporkan bahwa faktor terpenting kedua, tempat orang-orang teridentifikasi karena membuat mereka merasa lebih positif terhadap seni ( 67%), adalah akan berupa “acara-acara dan kegiatan-kegiatan yanglebih bersifat multikultural . Laporan itu menciptakan perhatian yang spesifik tentang perlunya ‘ mempromosikan ekspresi melalui seni budaya asli Papua, dengan memperhatikan bahwa masyarakat berlatar belakang bahasa nusantara mengekspresikan pandangan-pandangan yang lebih positif terhadap seni secara keseluruhan.. Aktivitas-aktivitas kesenian ” semestinya terlahir bersama konteks dan isi yang relevan untuk menarik perhatian orang-orang dengan latar belakang yang bervariasi”.

D. SWOT Analysis
Secara umum, terdapat Lima materi pokok ‘yang paling utama’ dari pengematan ini :
•ketrampilan komunikasi
•manajemen program
•manajemen diri dan organisasi waktu
•ketrampilan lintas budaya,
•pengembangan dan pelatihan
Ketrampilan komunikasi dalam hubungannya dengan ketahanan dan pengembangan organisasi muncul sebagai pokok utama bagi pengembangan profesionalisme, sementara kapasitas orang-orang akan mengarahkan situasi ini kepada ketrampilan komunikasi lintas budaya. Hubungan komunikasi ini -suatu lingkungan eksternal yang sukar dan sikap bermusuhan yang dipahami- akan dilakukan pendekatan dengan ketrampilan lebih relevan terhadap masyarakat local, memberikan suatu tatanan terhadap analisa tentang kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang/Analisa SWOT kepada lingkungan tempat analisa itu berlangsung.
Sementara analisa SWOT lebih merupakan perangkat-perangkat kasar, memungkinkan pengembangan parameter-parameter bagi perencanaan strategis dalam pengembangan profesionalisme bagi khasanah seni budaya Papua. Data dari riset ini memungkinkan rancangan dari unsur-unsur ini.
“Pasangan” pertama ( strength /weakness) mengaplikasikan persepsi-persepsi di dalam organisasi, pasangan kedua (opportunities /threats) mengacu kepada lingkungan tempat proses berlangsung berlangsung.

Strengths
Praktek-praktek dan organisasi-organisasi seni budaya Indonesia sudah mengalami sejumlah dekade perubahan dan reformulasi, sejak keterlibatan pemerintah pusat pertama kali di akhir tahun 1970-an dalam konteks seni masyarakat. Lalu berkembang ke dalam daftar Seni untuk suatu “kepentingan” melintasi semua bentuk kesenian di akhir 1980-an dan awal 1990-an, dan kemudian menjadi “pengaruh utama” kebijakan mulai sekitar akhir 90-an. Namun tidak demikian dengan perkembangan praktek-praktek dan organisasi seni budaya Papua. Sejumlah factor seperti minimnya SDM, minimnya informasi, referensi dan trauma telah menyebabkan praktek dan organisasi seni budaya Papua mengalami penurunan kualitas dan kwantitas baik dalam produk maupun aktivitas.
Para praktisi telah membangun ketrampilan mereka lewat kerja bermasyarakat dan sukarela, pendidikan-pendidikan formal, dan interaksi yang sedang berjalan dengan para rekan kerja. Kekuatan pemahaman diri mereka yang utama terhadap aktivitas-aktivitas profesional mereka—mayoritas mereka adalah ‘para amatir’, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap aktivitas-aktivitas kreatif pendewasaan dan produksi program dan acara. Mereka melihat kekuatan mereka sendiri terbentang dalam ketrampilan-ketrampilan lintas budaya dan komunikasi, dalam kapasitas mereka untuk membantu di dalam pengembangan dan pelatihan dari para pekerja ( dan anggota masyarakat) yang lain, dalam bekerja dengan tim bentukan dan seniman lain, dengan organisasi sendiri, dengan klien dan jaringan masyarakat. Tentu saja wilayah kemampuan dari kapasitas relatif yang paling kuat terhadap pentingnya peran, adalah pengembangan dan pelatihan. Sementara mereka menghabiskan banyak waktu dan energi padanya dan mengembangkan keahlian mereka dalam peran ‘amatir’ mereka, mereka tidak memikirkan peran ini sekrusial ketahanan organisasi sebagai penghimpun dana.
Gambaran yang muncul kemudian merupakan bagian dari komitmen para praktisi, kebanyakan mereka tidak hanya bekerja di bidang ini untuk organisasi-organisasi mereka, tetapi juga sebagai para partisipan dalam badan-badan dan struktur-sturktur manajemen dari organisasi lain. Mereka merepresentasikan sejumlah komitmen dan bakat pada ‘ energi permukaan”.

Weaknesses
Meski demikian orang-orang yang bekerja dalam wilayah seni dan budaya memiliki energi dan komitmen, mereka menyatakan perhatiannya terhadap lingkungan keuangan yang sulit, dan mengidentifikasi kinerja pemerintah daerah yang mengubah dan membiayai sebagian organisasi sebagai masalah kritis. Singkatnya mereka menyatakan kepercayaan dan sikap yang sesungguhnya menunjukkan bahwa mereka kurang percaya terhadap diri sendiri. Mereka bekerja sendiri, terisolasi dan merasa tak ada pendukung.
Perluasan pasar bebas mengharuskan pemerintah daerah dalam kebijakannya memberikan dukungan menyangkut seni dan budaya, serta memberikan tekanan pada organisasi yang dibiayai untuk membangun mata rantai dengan sumber pendukung lainnya. ‘Sponsor’ menghadapi kebanyakan praktisi (terutama dalam peran managerial) lebih sedikit yang mampu menunjukkan prioritas pada diri mereka. Sedangkan dalam beberapa hal “suatu kelemahan’ individu, juga mencerminkan bahwa sesuatu dengan cepat mengubah lingkungan eksternal. Ada sedikit pendukung jaringan kerja dan sedikit sumber daya atau energi yang tersedia untuk membangun jaringan itu.
Tantangan untuk tetap bertahan bagi sebuah organisasi seni dan budaya dicerminkan di dalam kesulitan-kesulitan penting yang dihadapi. Banyak organisasi kecil dan praktisi harus melakukan banyak tugas-tugas yang tidak bisa ditinggalkan, bahkan ketika individu tersebut sedang melakukan latihan lanjutan.
Koresponden dalam penelitian ini mengenali potensi teknologi media baru untuk menawarkan sebuah solusi terhadap tantangan yang mereka hadapi, sekalipun begitu mereka menyadari bahwa mereka tidak selalu bisa secepatnya menguasai teknologi baru tersebut’. Ada pengertian tersendiri tentang kurva belajar’ jika dihubungkan dengan teknologi baru. Sebagai tambahan, teknik perencanaan dan pengendalian berbagai hal keuangan- yang semakin diintensifkan dalam aturan-aturan perpajakan baru- merupakan sebuah “gangguan” bagi mereka yang intensitasnya semakin meningkat., Sebab mereka hanya memiliki sedikit pengalaman strategi yang cukup untuk menerapkan teknik ini secara efisien dan efektif.

Opportunities
Dengan energi dan pengetahuan dalam bidang dan pernyataan untuk memberikan dukungan agar memungkinkan seni praktis di Papua menjadi lebih efektif, suatu program pengembangan yang fleksibel dan inovatif sebagai sebuah pilot project pantas dipertimbangkan. Program seperti ini memerlukan fleksibelitas, masyarakat pengguna yang belajar strategi, menawarkan potensi sebagai panutan untuk dillanjutkan di luar periode dan wilayah dari segla kursus spesifik , dan menggunakan teknologi informasi. Kurikulum ini akan membawa bersama-sama perencanaan strategis ketrampilan, pengembangan komunitas dan pengetahuan budaya, dan strategi pembelajaran secara fleksibel. Program akan meliputi pelajaran work-based, kapan waktu memulai dan mengakhiri sebuah pekerjaan sehingga tanggung jawab kerja lain tidak terlupakan. Dengan kritis, program akan membangun model jaringan pendukung, dan memudahkan proses lanjutan dalam kelompok yang belajar hubungan setelah periode yang formal telah disimpulkan.
Jika kelompok utama dalam pilot project ini dapat bertahan mereka akan cenderung untuk melakukan sesuatu pendekatan yang lebih jauh dalam membangun prinsip-prinsip komersialistis dengan sponsor, pemeliharaan partnerships dalam rangka meningkatkan semuan praktek organisasi tersebut dan ketahanan dari sebuah kelompok kesukuan. Sebagai contoh, beberapa organisasi seni budaya di pulau Jawa sudah mengadopsi pendekatan ini [yang dimulai oleh Yayasan Kelola dengan sukses dan juga telah menyatukan pembangunan berbagai model jaringan kerja.
Beberapa tahun yang lalu, pelajaran fleksibel dan kolaboratif, penggunaan teknologi media baru, dan strategi mentoring, semua telah dikirimkan dalam cara-cara yang mengijinkan aktivis dan praktisi, bahkan mereka yang masyarakat modern dan pedesaan, untuk mengambil keuntungan dari peluang baru yang ditawarkan itu. Program seperti itu juga memudahkan penyampaian oleh pemerintah tentang sasaran hasil dan informasi kebijakannya serta bagaimana memperoleh akses ke pendukungannya.

Threats
Lingkungan seni dalam masyarakat Papua telah menjadi lebih menantang lagi . Klaim bahwa masyarakat Papua saat ini adalah suatu masyarakat multicultural, tidak hanya dalam demografis tetapi juga dalam terminologi filosofis- telah mengubah harapan praktisi seni budaya. Terobosan pemerintah daerah dalam pembelanjaan program-program jangka panjangnya mengindikasikan bahwa kompetisi telah meningkat untuk dana terbatas. Dan kelompok yang trampil dalam menyambut peluang prioritas sekarang akan lebih sukses dibanding kelompok baru yang belum bisa bekerja pada sistem ini.
Simpang siurnya kebijakan yang dibuat juga mempengaruhi komitmen yang akan dan telah dibuat..Selagi pemerintah menekankan kesanggupannya untuk mendukung perkembangan seni budaya, investasi yang ada sering tidak sesuai kebutuhan yang diperlukan. Ini pertanyaan menyangkut keselarasan antara statemen pemerintah dan bantuan pemerintah. Keselarasan ini akan menghasilkan konsekwensi penting bagi kemampuan dan kapasitas organisasi kecil untuk mencapai tujuan artistik mereka. Meskipun demikian pertanyaan ini telah meningkatkan tekanan pada format seni dan badan profesional besar yang membiayai organisasi-organisasi kecil untuk memperlakukan dengan serius kenyataan dari kebutuhan pengembangan seni budaya Papua. Dalam istilah yang lebih rumit, mungkin menghasilkan lingkungan lebih ulet dan lebih kuat dalam jangka pendek, meskipun situasi tidak menunjukkan perubahan yang berarti sehingga sangat sedikit networking strategis tersedia untuk praktisi yang terus menerus merasa terisolasi .

Outcomes
Pendidikan professional berkelanjutan ini, pengembangan dan pelatihannya akan menjadi suatu bagian penting dari keseluruhan lingkungan praktisi seni. Fokus ditujukan pada perkembangan seni dalam suatu lingkungan seni budaya Papua, karena dalam beberapa hal, seniman individu boleh berhubungan dengan perbaikan ketrampilan dan perluasan praktek melalui/sampai pemahaman dalam mengubah teknologi. Lebih umum lagi -bahkan untuk seniman individu-, pengembangan profesional memerlukan perhatian khusus pada suatu program ketrampilan bisnis dan kepemimpinan inti.
Program seperti itu akan melibatkan kepemimpinan dan ketrampilan hubungan antar individu, merencanakan pemasaran dan menyediakan ketrampilan, dan satu rangkaian program ketrampilan teknis, mencakup pemasaran dan pengetahuan lokal, ketrampilan teknis administratif, dan ketrampilan merancang program. Sistem harus memastikan pengenalan dan status dari program, fleksibilitas dan biaya rasional dari program, dan manfaat berkesinambungan yang bisa dijadikan model dari jaringan kerja ini. Status Isu cukup penting, sebab praktek seni multicultural relevan melintasi semua bidang pengembangan seni dan paling efektif ketika kebijakan disatukan sebagai bagian dari nilai-nilai inti seluruh masyarakat seni.
Program pelatihan berkelanjutan ini dapat dibuatdalam konteks kerangka pelatihan industri (seperti Pelatihan Managemen/Penguatan Kapasitas Organisasi atau Individu yang berkecimpung dalam wilayah Seni Budaya Papua), dalam sebuah sistem, menggunakan jasa penyedia pelatihan industri komersil, dan juga universitas yang memiliki lingkungan pendidikan profesional. Masing-Masing mempunyai kelemahan dan manfaatnya, meskipun demikian system ini akan menjelaskan sertifikasi hasil program, , jaminan kwalitas, dan pengembangan dari/tentang lingkungan dan material pelajaran sesuai yang dibutuhkan oleh yang bersangkutan. Kendala-kendala dalam proses belajar ini akan teridentifikasi di dalam riset, , program, kerja didasarkan pada penggunaan teknologi informasi, yang ditempatkan sebagai sebuah ukuran mentoring, dan membangun suatu data base informasi yang dihasilkan oleh pertanyaan yang diangkat oleh setiap bidang, harus diberikan prioritas tinggi.
Program formal bisa ditawarkan oleh satu institusi, atau melalui suatu gabungan institusi. Suatu inter-institutional program mungkin menawarkan dukungan on-line untuk satu rangkaian unit yang dikirimkan., dengan dukungan online berkesinambungan dan jaringan panutan lokal. Beberapa universitas sekarang ini menawarkan layanan ini sebagai bagian dari sekian banyak kursus, kedua-duanya di dalam institusi dan untuk para siswa studi eksternal. Peserta bisa mengambil unsur-unsur pokok, pokok utuh atau keseluruhan program dalam periode waktu yang diinginkan. Hal-hal seperti ini akan menawarkan arsip dan pertanyaan yang dikembangkan oleh bidang, material on-line, forum topik, diskusi, material downloadable, dan potensi untuk waktu riil ceramah kuliah dan lain lain. Organisasi bisa memutuskan memelihara suatu komunitas kepada sumber daya informasi, atau fungsi ini bisa didukung oleh pemerintah daerah setempat. Program Material dapat juga ditawarkan dalam format elektronik seperti cd-rom, jika jasa on-line terbatas.*

About these ads