25 TAHUN GERAKAN MASYARAKAT SIPIL PAPUA


Date : Sep 15, 2006

Wawancara dengan George J. Aditjondro
Pewawancara : Simone Baab dan Victor Mambor

Tahun 1980-an menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan Gerakan Masyarakat Sipil (GMS) Papua yang berkiprah dalam membela hak-hak masyarakat sipil di Papua. Selama 25 tahun perjalanan GMS ini, banyak suka duka yang dialami. Mulai dari nilai-nilai masyarakat itu sendiri maupun nilai-nilai yang diadopsi dari luar untuk merubah pola pandang masyarakat saat itu.
Lebih jauh mengenai kilas balik perjalanan GMS di Papua. Podium melakukan wawancara ekslusif dengan tokoh utama dibalik sejarah GMS Papua, Dr George Junus Aditjondro, yang datang ke Papua atas permintaan Foker LSM Papua sebagai narasumber dalam Semiloka 25 Tahun Gerakan Masyarakat Sipil di Papua.

Periode 1980
“Waktu itu ada pikiran dari dua orang Delsos di Jayapura (Theo van der Brook) dan satunya lagi di Sorong. Keduanya melihat kemungkinan bagaimana cara mengangkat permasalahan-permasalahan HAM di Papua kepermukaan, termasuk ke tingkat Internasional. Untuk itu libur hari Natal, 1980-an saya dengan isteri saya datang ke Papua bersama anak kami, untuk membangun diskusi.
Diskusi di Biara APO dan Keuskupan Jayapura itulah, yang kemudian melahirkan KKO yaitu Kelompok Kerja Oikumene Kelompok KKO ini terdiri dari beberapa orang diantaranya Arnord AP, yang waktu itu menjadi curator Antropologi Universitas Cenderawasih Jayapura, kemudian Ir.Agustinus Rumansara,MA yang waktu itu menjadi Direktur Pusat Pendidikan Kader GKI di Sentani dan Phil Erari serta seorang dosen di APND Yoka, Michael Manufandu. Kami kemudian mencoba melihat bagaimana KKO ini bisa melakukan pekerjaan-pekerjaannya agar lebih terorganisir yang dengan demikian menghubungkan permasalahan Papua di Papua sendiri dan di Jakarta agar mendapatkan ekspose di tingkat nasional maupun internasional.
Cerita punya cerita, Bruder Theo dan rekannya dari Sorong ini mendapatkan hubungan dengan Asia Foundation dan Ford Foundation, dua lembaga dana Amerika membentuk proyek kerjasama dengan Uncen,terutama lembaga Antropologi Uncen yang bernama IRJADISC.”

Tahun 1982
Periode inilah, keluarga George hengkang ke Papua. Dua tahun sebelumnya datang ke Papua sekadar untuk membangun diskusi dengan beberapa pilar penggerak civil society untuk suatu perubahan.
“Katakanlah kepindahan saya ke Papua sejak 1982 sampai dengan 1987, dengan kontrak saya yang pertama dengan IRJADISC dengan Asia Foundation yang hanya 22 tahun kemudian masih diperpanjang.
IRJADISC ini berbasis di lembaga Antropologi Uncen sehingga sangat dekat hubungannya dengan curator Museum Uncen yaitu Arnorld Ap maupun Ketua Lembaga Antropolodi Uncen, Dr Daan Ajamiseba. Teman-teman yang lain, seperti Pdt Phil Erari, Michael Manufandu, kemudian juga Jojo Erari (alm) kemudian sangat terlibat dalam pengarahan kegiatan Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD). Salah satu kegiatan IRJADISC adalah penyuluhan bidang kesehatan, gizi dengan menggunakan seorang konsultan dari Amerika Jim Henk. Kemudian bidang medianya di asuh oleh James Frank dari Asia Foundation. Saya sendiri sebagai direktur IRJADISC. Kantornya, masih menggunakan Antropologi Uncen. Kemudian rumah saya digunakan 24 jam untuk melayani masyarakat. Dengan adanya IRJADISC itulah mulai kelihatan focus point. Tempat bertemu aktivis-aktivis Papua yang kami ajak untuk terlibat dalam kegiatan penyuluhan lingkungan. Karena isu lingkungan kami jadikan sebagai titik central kampanye. Kami mulai bergerak bersama-sama dengan nelayan-nelayan di teluk Youtefa, Jayapura dan juga sepanjang Pegunungan Cyclop,seperti kampung-kampung di Ormu, Doromena dll. IRJADISC ini juga mulai merangkul para pengrajin rotan di Nimboran dengan mendatangkan pelatih dari Cirebon dan kemudian menjadi mahir dan mengantar IRJADISC menjadi lembaga hukum yang solid dengan diberi nama Yayasan Pengembangan Masyakat Desa.(YPMD). Kegiatan YPMD lebih fokus pada air minum. Karena penyuluhan kesehatan mulai berkurang karena sudah selesai kontraknya. Kemudian muncul kerja-kerja dengan kelompok perempuan,disekitar pantai dan dan Jayapura. Ini dimungkin karena salah satu “anak” dari IRJADISC adalah KKW (Kelompok Kerja Wanita). Motornya antara lain; ibu Jojo Erari, suaminya Phil Erari, Arnold Ap dan Michael Manufandu dan saya sendiri. . Dari sinilah mulai pertama kali organisasi-organisasi yang tidak dibawah Gereja, katakanlah Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM) sekular pertama di Papua. Satu hal penting lainnya adalah peranan Arnold Ap dengan payung lembaga atropologi Uncen. Kegiatan-kegiatan poenyuluhan di desa nelayan itu diisi dengan lagu-lagu Mambesak serta MOP-MOP yang diasuh oleh Arnold Ap dan Costan Ruhukail, Wolas Krenak dan teman-teman Mambesak lain.”

Tahun 1984
Tahun 1984, gerakan masyarakat sipil ini dalam situasi yang rumit. Karena Arnold Ap dituduh otak dibalik eksodus 10.000. orang ke Papua New Guinea dan dituding sebagai Menteri Kebudayaan Republik Papua Merdeka dibawah Komando Brigjen Zet Rumkorem. Ia ditangkap oleh Kopasanda, dijebak dan melarikan diri dan dibunuh di Pasir 6. Pukulan yang sangat berat bagi IRJA DISC.
“Di sisi lain kami lihat itu sebagai dorongan. Berita dari kampung yang kami terbitkan kemudian diubah menjadi Kabar Dari Kampung (KDK), KDK selalu diasuh dalam bahasa Indonesia populer dan bahasa Indonesia-Papua. Waktu itu KDK merupakan majalah yang banyak dibaca oleh masyarakat desa dan masyarakat di Papua. Itulah spiritnya Arnorld Ap, termasuk yang lainnya. Pentingnya mengetahui struktur budaya, system budaya, system sosial masyarakat diberbagai di Papua sebagai entripoint sewaktu introduksi sosial. Kemudian, dengan cepat kita mendapat pengakuan dari lembaga-lembaga lain yang kemudian masuk seperti Walhi, YLHBI, sehingga kasus-kasus pelanggaran HAM Papua mulai diangkat ke permukaan, terutama ke tingkat nasional dan internasional. YPMD merupakan salah satu perintis sebuah NGO Forum, semacam kumpulan NGO Belanda dan Amerika yang mencoba memantau perkembangan HAM di Papua dan waktu itu.
Dengan demikian YPMD makin dikenal oleh donor luar. Tetapi ketergantungan IRJADISC pada Uncen itu berat. Uncen mulai takut karena soal-soal kritis yang dilontarkan oleh YPMD. Dari situlah mulai mengundang kami keluar dari Uncen IRJADISC, YPMD plus KDK mulai dikenal diluar negeri, seperti Australia sebagai amplifier (pengeras suara ) bagi kelompok masyarakat yang tertindas. Transmigrasi kami sebarkan lewat KDK. Dengan latarbelakang 10 tahun saya bekerja di Majalah Tempo, KDK mencoba menyoroti permasalahan-permasalahan tertentu, semisal petani, nelayan, buruh, Sehingga ada nomor petani, nomor nelayan, nomor kerajinan. Waktu itu, saya sebagai Wakil Ketua Presidium Walhi dan YPMD. Dan ini langsung dilanjutkan oleh Clif Marlessy. Clif Marlesy yang aktivis lingkungan di Jawa, jurusan tehnik dialah poros tengahnya pembuatan air minum dan tehnologi tepat guna lainnya, pengolahan buah menjadi teh manis dan lain-lain. Jadi hubungan dengan Walhi,membantu YPMD lebih menata lingkungan. Kalau tidak salah tahun 1982, YPMD mendapat penghargaan Kalpataru dari Soeharto. YPMD mencoba melihat lingkungan yang bisa ditolelir atau melawan penguasa. Penghargaan Kalpataru itu bukan hanya kegiatan YPMD, melainkan kegiatan lain di daerah Papua. Prinsipnya, tidak perlu hanya secara tehnis kita kenal bahwa menanam pohon, melakukan advokasi hutan dan sebagainya adalah sebuah tantangan berat. Kerja-kerja ini, membuat kita tiada hari tanpa berurusan dengan tentara. Mau urus Freeport, pasti berurusan dengan tentara. Mau urus HPH dan Transmigrasi, juga berurusan dengan tentara.Apalagi, waktu itu, tiga departemen di Papua dipimpin oleh tentara. Departemen Penerangan, Transmigrasi dan PU. Akibatnya, semua kepentingan yang tak sejalan dengan kemauan dari para tentara ini, terpaksa mau tidak mau harus rela untuk menerima ancaman, baik fisik maupun nonfisik, termasuk penutupan usaha. Pembredelan KDK waktu itu, karena peran tentara yang masuk kedalam Departemen Penerangan. Namun melihat peran KDK besar di Papua dalam mengangkat hak-hak masyarakat di Papua, maka kita menyurat ke Kanwil dan Menteri Penerangan, minta untuk KDK diterbitkan kembali dan diberi surat ijin cetak. Itulah yang bisa dilakukan oleh teman-teman yang lain yang masih survife. Ya,boleh dikatakan YPMD dan KDK merupakan model kerjasama intelektual penduduk asli dengan penduduk amber. Kerjasama ini bisa dilihat dengan adanya berita-berita yang sampai kepada masyarakat dikampung dan bukan retorika belaka melainkan semakin tumbuh dan berkembang. Peranan KDK sangat besar dan membantu mendidik masyarakat Papua. Dengan pendekatan media seperti ini, masyarakat dapat didik dengan cara membaca dan mengekspresikan kebutuhan masyarakat di daerah ini. Upaya lain, berusaha memelihara berita-berita itu dengan menyiapkan acara-acara yang dapat saja diresmikan oleh pemimpin-pemimpin ini, dengan diresmikannya proyek air bersih di Depapre. Dengan cara tokoh-tokoh masyarakat diundang dengan budayawan lainnya dengan menyuguhkan tarian dan atraksi budaya lainnya dengan mengundang bupati Jayapura untuk meresmikannya. Dengan cara seperti ini, embrio gerakan-gerakan sipil dalam bentuk HAM mulai dipertunjukkan, dengan pola tarian dan gerak-gerak lainnya. Intinya, kita gunakan tokoh dan baju lingkungan untuk mengangkat masalah HAM di Papua.
Selanjutnya, lewat Bruder Theo, LBH didirikan di Papua. Gereja Khatolik dan GKI meminta kepada YLBHI agar LBH didirikan di Papua. Waktu itu, Bambang Widjojanto yang menjadi Direktur pertama LBH,disusul Budi Setyanto,SH, Abdur Rahman Upara, Demianus Wakman,SH dan saat ini Paskalis Letsoin,SH.”

Periode 1987
Kurun waktu ini, cukup rumit. Georgepun harus meninggalkan Papua. Dan tahun 1989 kembali ke Papua dengan ambil program master. Namun kemudian ia memutuskan kembali lagi ke Jawa.
“Agustinus Rumansara menganti posisi saya sebagai Direktur YPMD. Selanjutnya Tonny Rahawarin, Clif Marlessi, Fien Yarangga dan sekarang Decky Rumaropen. Berarti sudah banyak sekali orang yang berkembang., Dan saya sendiri senang, mungkin YPMD yang saat ini berkantor sendiri di Jalan Jeruk Nipis telah banyak memberikan kontribusi bagi pergerakan rakyat didaerah ini, termasuk strukturnya dengan membentuk LSM-LSM lainnya di Papua.
Dengan 25 tahun Gerakan Masyarakat Sipil di Papua, saya merasa berbahagia. Karena banyak pelaku-pelaku YPMD terus melalangbuana sampai ditingkat internasional. Irianto Jakobus di KIPRa dan Yusan Jeblo adalah hasil kaderisasi. Tapi ada yang meungkin bisa disebut kegagalan, yakni dua mantan pemimpin YPMD, bekerja di Freeport, BP dan Asian Development Bank.Tentunya, disatu sisi kita bangga. Tetapi disisi lainnya kita dikalahkan secara mental. Para relawannya juga masih banyak yang setia pada rakyat, tetapi ada yang sudah meninggalkan rakyat dengan menjadi PNS. Seperti Jhon Gluba Gebse yang saat ini menjadi Bupati Merauke adalah didikan dari IRJADISC. Relawan-relawan IRJADIS maupun YPMD telah membuat suatu perubahan besar didaerah ini dengan penelitian dan seminari di luar negeri. Mewakili YPMD untuk seminar diluar negeri dan juga penelitian dalam hubungannya dengan study dosen dan sebagainya, Salah satunya, Festus Simbiak, yang bekerja sebagai relawan di IRJADISC, termasuk menulis di KDK. Dengan suaranya yang halus,selalu mengingatkan saya pada sosok Simbiak yang tekun dalam belajar menulis di KDK. Michael Manufandu, jadi Walikota Administratif Jayapura dan pindah ke Depdagri. Phil Erari yang melanglangbuana dan sebagainya. Suatru kebanggaan yang sangat berarti bagi saya ,karena dengan hasil didikan melalui KDK, IRJADISC dan YPMD banyak yang menjadi manusia Papua dan mengenal jatidirinya.” ujarnya mengakhiri wawancaranya.*