MEREKA MEMBAWA ANAK-ANAK KAMI
Artikel ini merupakan artikel yang saya terjemahkan dari artikel di The Sydney Morning Herald, May 4, 2013 (http://www.smh.com.au/lifestyle/theyre-taking-our-kids-20130429-2inhf.html#ixzz2SMJbWkfv) yang ditulis oleh Michael Bachelard.
============================================================
Johanes Lokobal duduk di rumput yang menjadi bantal di lantai kayu di rumah satu-kamarnya yang kecil. Dia menghangatkan tangannya di api yang berada di tengah rumahnya. Sementara, dari waktu ke waktu seekor babi, terlihat menjerit dan membanting dirinya sendiri dengan keras ke dinding sebelah luar rumah.
Kampung Megapura terletak di pegunungan tengah, provinsi paling timur Indonesia, Papua Barat yang begitu jauh hingga suply apapun hanya bisa dilakukan melalui udara atau berjalan kaki. Johanes Lokobal telah tinggal di situ sepanjang hidupnya. Dia tidak tahu persis usianya : “Tua saja,” katanya. Hidupnya juga jauh dari cukup. “Saya membantu di kebun. Saya dapat sekitar 20.000 rupiah [$ 2] per hari. Saya membersihkan taman sekolah.”
Tapi dalam kehidupannya yang keras, salah satu kesulitan yang menimpanya telah membuat dia terluka. Pada tahun 2005, putra satu-satunya, Yope, dibawa ke Jakarta. Lokobal tidak ingin Yope pergi. Anak itu mungkin berusia 14 tahun, tapi besar dan kuat, seorang pekerja yang baik. Namun orang-orang itu tetap membawa Yope pergi.. Beberapa tahun kemudian, Yope meninggal. Tidak ada yang bisa mengatakan pada Lokobal, bagaimana atau kapan tepatnya, dan dia tidak tahu di mana anaknya dimakamkan. Yang dia tahu, adalah bahwa ini tidak seharusnya terjadi. Continue reading

